Status Hukum Nikah Online Bagi Pasangan LDR

  • Whatsapp
hukum nikah online.jpg
Ilustrasi Pernikahan

Carapdkt.net – Status hukum nikah online merupakan topik pembicaraan yang menarik untuk disimak saat ini dan sekaligus menjadi pertanyaan banyak orang terutama para calon pengantin yang hendak menikah tetapi terkendala jarak dan waktu tidak terkecuali seperti keadaan saat ini yang tengah meluas wabah pandemi covid-19 sehingga pemerintah mengeluarkan maklumat agar masyarakat mengimplementasikan social distancing untuk sementara waktu.

Semakin banyak orang bertanya-tanya bagaimana status hukum nikah online di era globalisasi dan revolusi seperti saat ini, internet merupakan sebuah fenomena luar biasa yang bisa digunakan untuk berbagai hal dan membuat semua hal menjadi instan, mulai dari telekomunikasi, transportasi, pembelian barang dan makanan, hingga menemukan jodoh dan melakukan akad nikah.

Bacaan Lainnya

Pernikahan unik ini biasanya dilakukan dengan panggilan suara atau bahkan video call, dengan bentuk yang beragam. Mulai dari wali dengan kedua mempelai terpisah, atau antara calon pengantin pria dan wanita yang saling berjauhan. Intinya, salah satu atau beberapa orang yang berkepentingan dalam akad tidak berada di satu tempat yang sama.

Status Hukum Nikah Online Menurut Islam

Dalam Agama Islam, pernikahan dianggap sah apabila syarat dan rukun-rukunnya telah dipenuhi. Menurut Jumhur Ulama (pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para pakar hukum islam), rukun nikah ada empat, yaitu sigat (ijab kabul), calon istri, calon suami, dan wali. Sedangkan menurut Imam Hanafi, rukun nikah hanya mencakup ijab dan kabul.

Dan pada kasus pernikahan yang dilakukan dengan media telepon atau secara online, syarat nikah yang masih diperdebatkan adalah bersatunya majelis ijab dan kabul. Maksud dari penyatuan majelis di sini adalah ijab dan qabul tidak boleh diselingi atau dipisahkan oleh kalimat lain di luar ijab dan kabul, atau terpisah oleh aktivitas lain di luar sigat. Beberapa pendapat pakar mengenai hal ini adalah sebagai berikut:

1. Imam Hambali dan Hanafi

Menurut Imam Hambali dan Imam Hanafi, meski lafaz dari ijab dan qabul tidak diucapkan secara beriringan, misalnya mempelai pria sempat terdiam beberapa saat sebelum mengucapkan kabul, maka status dari akad nikah tersebut tetap dianggap sah.

Asalkan dalam jeda waktu tersebut tidak diselingi oleh kalimat dan / atau aktivitas lain. Dua orang saksi juga harus mendengar serta memahami ucapan ijab dan kabul dari pihak yang berakad, meskipun tidak melihat secara langsung.

2. Al-Jaziri

Seorang ilmuwan Muslim dari Al-Jazira yang bernama Islamil Al-Jaziri memperjelas pengertian dari satu majelis mazhab Hanafi adalah sah meskipun ada jeda agak lama (asalkan akad tidak terputus hal lain). Kejadian ini pernah terjadi di masanya, yaitu ketika seorang pria beda kota berkirim surat untuk melakukan akad nikah kepada perempuan yang dikehendakinya.

Saat surat itu sampai, isi surat dibacakan di depan para saksi dan wali dari mempelai wanita. Dan dalam majelis yang sama setelah surat selesai dibacakan, wali dari mempelai perempuan tersebut langsung menerima nikahnya (mengucapkan qabul).

3. Majma’ al-Fiqh al-Islami

Majma’ al-Fiqh al-Islami mengeluarkan pendapat bahwa akad nikah harus satu tempat secara hakiki. Alasannya adalah khawatir akan penipuan suara yang mungkin saja dilakukan, sehingga akad nikah harus dijaga dengan hati-hati.

4. Imam Maliki dan Imam Syafi’i

Imam Maliki dan Imam Syafi’i mengemukakan pendapat bahwa lafaz kabul harus segera diucapkan setelah kalimat ijab. Menurut Imam Maliki, jika jarak antara pengucapan ijab dan kabul tidak terlalu lama maka sigat tetap sah, sementara Imam Syafi’i bersikap lebih tegas dengan tidak memberikan toleransi tentang selang waktu.

Selain itu, Imam Syafi’I juga berpendapat bahwa dua orang saksi dalam pernikahan tidak cukup jika hanya mendengar ucapan ijab dan kabul, tapi juga harus melihat secara langsung dua orang yang melakukan akad nikah. Dengan kata lain, proses akad nikah harus disaksikan langsung oleh kedua saksi melalui penglihatan dan pendengaran yang sempurna.

5. Majelis Tarjih PP Muhammadiyah

Menurut Majelis Tarjih, poin utama dari satu majelis dalam akad nikah adalah kesinambungan waktu (terjadi dalam satu waktu), bukan dalam satu tempat. Sehingga para ulama imam mazhab dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah sepakat bahwa sigat nikah yang dilakukan dengan jarak jauh melalui saran telepon atau video call, statusnya adalah sah.

6. Imam Ahmad bin Hanbal

Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal tak jauh berbeda dari pendapat sebelumnya, yang menginterpretasikan satu majelis bukan masalah tempat melainkan waktu. Imam Abu Hanifah dan fukaha dari Kufah juga telah menyetujui pandangan Ahmad bin Hanbal ini.

Misalnya, jika wali mengucapkan ijab dengan pengeras suara dari satu ruangan dan langsung disambut oleh ucapan kabul dari calon suami melalui pengeras suara dari ruangan lain, serta masing-masing mendengar ucapan yang lain dengan jelas, maka akad nikah tersebut dianggap sah.

7. Sayid Sabiq

Pendapat lain datang dari seorang ulama kontemporer Mesir yang terkenal dalam bidang Fiqh dan dakwah Islam bernama Sayid Sabiq. Dalam karya monumentalnya yang bernama Fiqh al-Sunnah (fikih berdasarkan sunnah Nabi), ia menjelaskan mengenai arti dari satu majelis saat melaksanakan akad nikah, yang menekankan bahwa antara ijab dan qabul tidak boleh terputus.

Dengan kata lain, satu majelis bukan berarti mutlak harus berada di satu tempat (majelis makni), tapi bisa diartikan juga sebagai majelis zamani (satu waktu), sehingga nikah online bisa dilakukan oleh pasangan yang sedang berjauhan.

8. Lajnah Daimah

Menurut Lajnah Daimah, beberapa akad nikah boleh dilakukan secara jarak jauh dengan media telepon, seperti jual beli. Namun, saksi nikah harus bisa memastikan bahwa wali dan pengantin pria memang benar adalah orang yang bersangkutan. Saksi harus yakin bahwa tidak ada penipuan suara atau rupa. Proses ijab dan kabul juga harus berjalan lancar tanpa terputus, dan dalam satu waktu yang sama.

9. Majelis Ulama Indonesia

Di Indonesia sendiri, Komisi MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jawa Timur mengeluarkan fatwa berdasarkan hadis riwayat Ummu Habibah bahwa akad nikah yang dilakukan secara online adalah sah, tetapi dengan menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

MUI juga berpendapat bahwa tidak ada dalil qath’i yang menyebutkan / mengatur tentang teknis dari sigat nikah, sehingga dapat disimpulkan bahwa teknis tersebut tidak ada nash yang tegas atau merupakan masalah ijtihadiyah.

Dari semua pendapat dan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa status hukum nikah online adalah sah. Meskipun bisa menggunakan telepon biasa, tapi akan lebih baik jika melalui video call, agar kedua saksi dapat melihat langsung dan memastikan bahwa yang melakukan ijab dan qabul adalah orang-orang yang bersangkutan.

RELATED POSTS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 4 = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.