Perspektif Fenomena Nikah Online dalam Masyarakat

  • Whatsapp
Fenomena Nikah Online.jpg
Ilustrasi Nikah Online

Carapdkt.net – Anda berencana menikah secara online ? Kepikiran bagaimana caranya? Yang terlintas di benak saya pastinya kedua pengantin tidak dapat langsung menikmati syahdunya malam pertama, kan tidak mungkin kalau begituannya dilakukan secara online, Jhehehehe.  Topik kali ini dijamin seru karena akan bahas mengenai prespektif fenomena nikah online dalam masyarakat.

Nikah online digelar bukan tanpa alasan, melainkan sudah melalui banyak pertimbangan dan tentunya tanpa mengabaikan nilai-nilai syariat agama. Pada ulasan sebelumnya saya pernah menyinggung soal nikah online dan fakta di lapangan memang sudah pernah terjadi adanya pernikahan secara online, jangan ngebayangin pas di tengah-tengah prosesi ijab qabul ternyata kehabisan kuota internet ya,,,,:D

Perkembangan teknologi beserta informasi saat ini senantiasa terus mengantarkan masyarakat menuju segala hal yang lebih mudah. Salah satunya ialah nikah online. Perspektif fenomena nikah online pun surut timbul di lingkungan masyarakat. Mengingat bahwa pernikahan semacam ini dilakukan menggunakan konektivitas internet dan tidak dilakukan seperti lazimnya.

Sebagian masyarakat masih meragukan sah atau tidaknya suatu pernikahan online. Terlebih lagi urusan ijab qabul yang biasanya mesti dilakukan secara langsung kini dilaksanakan secara online. Esensi dari akad nikah seakan-akan berkurang begitu saja berkat fenomena pernikahan daring semacam ini.

Pernikahan Secara Umum

Terdapat sejumlah persyaratan mutlak yang mesti dipenuhi demi keabsahan sebuah akad nikah. Segala persyaratan tersebut bahkan tercantum dalam fiqh islam wa’ adillatuhu yakni sebagai berikut:

1. Kesesuaian serta ketepatan pengucapan kalimat ijab qobul

Dalam pengucapan ijab qabul, seorang laki-laki wajib membaca kalimat tersebut dengan benar. Misalnya, ayah si wanita berkata “saya nikahkan kamu dengan putri saya, Suci” maka si laki-laki wajib berkata “saya terima nikahnya Suci”. Apabila dijumpai adanya perbedaan nama atau kekeliruan lainnya, maka ijab qabul dianggap tidak sah.

Bukan hanya sekadar nama saja. Jika terdapat perbedaan dalam pengucapan mahar, maka ijab qabul tersebut juga menjadi tidak sah. Maka dari itu, dalam pengucapan ijab qabul seorang laki-laki mesti mengucapkannya dengan benar dan lantang. Jangan sampai keliru atau melakukan kesalahan sepele. Bisa jadi justru pernikahan Anda menjadi tidak sah.

2. Ucapan ijab qabul tidak boleh ditarik kembali

Seorang laki-laki yang telah mengucapkan ijab qabul maka tidak boleh menarik kembali ucapannya. Apabila dia menarik kembali ucapannya, maka ijab qabul menjadi tidak sah. Hal ini mengingat bahwa kalimat ijab qabul adalah sebuah rukun pernikahan yang mesti dilaksanakan. Tanpa adanya kalimat ijab qabul tentu tidak ada yang namanya pernikahan.

Bayangkan jika pengucapan ijab qabul dilakukan secara online. Meskipun ada yang memperbolehkan menikah secara online, namun jika dilihat dari sisi etika pernikahan online tentu cukup tidak elok untuk dilakukan. Kesannya, menikah online dapat mengurangi esensi kesakralan suatu ikatan resmi pernikahan. Sebisa mungkin Anda dan pasangan melakukan pernikahan secara langsung.

3. Diselesaikan dalam waktu akad

Ilmu fiqh menyatakan bahwa tidak memperbolehkan adanya ucapan ijab qabul untuk pernikahan pada waktu yang akan datang. Misalnya, “saya akan menikahimu besok” atau “saya akan menikahkan kamu dengan putri saya setelah matahari terbit”. Hal ini sangat tidak diperbolehkan karena ijab qabul dari wali beserta pihak calon mempelai laki-laki wajib secara jelas, berurutan dan tidak terdapat selang waktu.

Anda tentu jarang sekali menjumpai fenomena semacam ini. Karena pada hakikatnya suatu pernikahan khususnya ijab qabul hanya akan dilafalkan secara jelas dan lantang saat itu juga. Tidak ada penundaan atas ucapan tersebut.

4. Dikerjakan dalam satu majelis

Ijab qabul wajib dilakukan dalam suatu majelis ilmu. Pengucapan ijab qabul harus jelas dan fokus. Jangan sampai Anda sebagai calon mempelai laki-laki justru terlihat sok menyibukkan diri ketika pengucapan ijab qabul dimulai. Apabila hal tersebut terjadi, maka pernikahan menjadi tidak sah.

Jangan sesekali bermain-main dengan perkataan ijab qabul. Sebab, sah atau tidaknya pernikahan Anda dan pasangan ditentukan dari adanya prosesi ijab qabul tersebut.

Menyelami Perspektif Fenomena Nikah Online

Nikah online sejatinya merupakan wujud pernikahan dimana transaksi ijab qabul dikerjakan dengan memanfaatkan konektivitas internet. Jadi, antara pihak mempelai perempuan, mempelai laki-laki dan para saksi tidak saling bertemu dalam suatu tempat melainkan terpisah dan hanya terhubung dalam wujud visual menggunakan perangkat video call sejenisnya.

Sejatinya pernikahan biasa dengan yang kerjakan secara online tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Keseluruhan ritual nikah online sama dengan pernikahan secara umum. Yang membedakan di antara kedunya ialah esensi ittihad al-majelis yakni tempat pelaksanaan akad. Seperti yang telah disebutkan bahwa nikah online akan difasilitasi oleh teknologi visual termutakhir saat ini.

Untuk menentukan apakah seseorang dapat melaksanakan akad nikah secara online, maka seseorang tersebut perlu memenuhi ketetapan berikut:

  1. Kedua belah pihak mempelai menginginkan adanya pelaksanakan pernikahan secara online karena adanya perpisahan jarak cukup jauh. Contohnya, ketika pasangan sedang bertugas untuk menjadi relawan di jalur gaza.
  2. Kedua belah pihak tidak bisa bertemu karena alasan tertentu yang bersifat penting sehingga memutuskan untuk melakukan nikah online. Misalnya, ketika pasangan sedang ada tugas penting seperti berperang di perbatasan negara dan sebagainya.

Pernikahan online juga dipayungi oleh sistem hukum dan berlaku hingga saat ini. Sistem hukum yang menaungi nikah online terdapat dalam UU No. 11 pada Tahun 2008 terkait informasi beserta transaksi elektronik. Jadi, nantinya apabila muncul kerugian yang diperoleh dari adanya fenomena nikah online maka pihak tersebut dapat langsung melaporkannya ke pihak berwenang untuk dipidanakan.

Sebagai negara hukum, Indonesia senantiasa berpijak pada Undang-Undang sebagai bentuk konstitusi tertinggi. Kemudian secara spesifik pegangan hukum tentang pernikahan terdapat pada UU No. 1/1974. Pencatatan pernikahan online pun tidak dapat terlepas dari aturan hukum tersebut. Jadi, walau bagaimanapun juga pernikahan online tetap dinyatakan sah.

Pernikahan online sah di mata agama dan hukum. Yang membedakannya hanya esensi dari pernikahan itu sendiri. Pernyataan tersebut juga bisa menjadi bukti kuat terlebih lagi adanya peraturan UU sebagai pegangan yang menguatkan fakta bahwa nikah online sah baik dari segi agama maupun hukum. Ini dapat menjadi senjata ampuh bagi Anda yang hidup dalam lingkup masyarakat fanatik seperti sekarang ini.

Namun, MUI sendiri mempunyai sudut pandang berbeda terkait hal ini. MUI menganggap bahwa pernikahan semacam ini dianggap tidak sesuai dengan tujuan pernikahan. Pernikahan adalah hal sakral serta bukan merupakan hasrat seksual belaka. Maka dari itu, tidak heran sampai saat ini masih banyak terdapat pro dan kontra terkait nikah online.

Jika dicermati lebih jauh mengenai perspektif fenomena nikah online, ada baiknya jika Anda coba melakukan pernikahan tersebut sebagaimana lazimnya. Meskipun dinyatakan sah di mata hukum dan agama, namun esensi pernikahan yang dilakukan secara online terbilang nihil. Padahal hakikat pernikahan itu sendiri ada pada ijab qabul. Untuk itu, Anda harus bijak-bijak dalam pengambilan suatu keputusan.

RELATED POSTS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

23 − = 16

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.