Perjanjian Pra Nikah dalam Islam Yang Harus Diketahui

Perjanjian Pra Nikah dalam Islam – Perjanjian pra nikah ini biasanya dilakukan di beberapa negara seperti : Mesir, Tunisia, Syiria, dan beberapa negara lainnya. Tentang perkawinan calon suami dan istri dibenarkan membuat perjanjian pra nikah dan harus dipatuhi setelah akad dilangsungkan. Di dalam Islam, dijelaskan bahwa hak – hak dan kewajiban antara suami dan istri, yaitu tentang harta bawaan, gono – gini, tentang akibat perceraian dan sebagainya.
Isi perjanjian pra nikah bisa berupa permintaan non materi dan bisa bula berupa daftar barang yang  istri dan suami pada saat menikah. Perjanjian pranikah ditandatangani oleh suami dan disimpan oleh wali istri, lalu adakah perjanjian pra nikah dalam islam di Indonesia?

Apa saja Perjanjian Pra Nikah Dalam Agama Islam

pra nikah dalam islam

Apa itu perjanjuan pra nikah ?? Perjanjian pra nikah atau disebut juga dengan Prenuptial Agreement, dikenal sebagai perjanjian yang dibuat oleh calon mempelai pria dan calon mempelai wanita sebelum mengadakan upacara pernikahan untuk mengesahkan keduanya sebagai pasangan suami dan istri. Perjanjian ini mengikat kedua calon mempelai dan berisi masalah pembagian harta kekayaan masing – masing atau berkaitan dengan harta pribadi.

Kebenaran perjanjian pra nikah di Indonesia sendiri dilindungi secara hukum, yaitu pada pasal 29 ayat 1 UU no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang menyatakan bahwa pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan setelah isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut. Ada beberapa sebab yang membuat hukum perjanjian pra nikah menjadi haram, di antaranya sebagai berikut :

  • Bagi yang melakukan perjanjian pra nikah, jika suami meninggal maka istri tidak berhak menerima harta yang dimiliki suami sebelum menikah dan sudah diikat dengan perjanjian pranikah.
  • Perjanjian pra nikah berarti secara sengaja menghapus nilai – nilai ibadah yang dianjurkan dalam Alquran seperti wasiat, hibah, sedekah, dapat menjadi keharusan bagi suami istri yang memiliki anak angkat atau anak asuhan juga dengan pembantu yang mengurus mereka sehari- hari, karena anak angkat tidak mendapatkan harta warisan namun memiliki hak dari harta wasiat, hibah atau pun sedekah dari orang tua angkatnya.
  • Kewajiban nafkah terhadap anak dan istri. Tidak ada alasan bagi suami istri yang telah menikah tidak mau memberi nafkah terhadap anak – anaknya atau istrinya karena sebab dibataasi oleh adanya perjanjian pra nikah tersebut.
  • Masalah laki – laki Muslim yang menikahi wanita Kitabiyah ( wanita Yahudi dan Nasrani ) melakukan perjanjian pra nikah tentang hak asuh anak dan akidah keyakinan sang anak dibuat harus mengikuti ibunyaa atau pun ayahnya apabila terjadi perceraian.
BACA JUGA :  Hukum Nikah dalam Islam Yang Menarik

Isi Perjanjian Perkawinan

Dalam undang – undang yang telah disebutkan tersebut di atas juga mengatur mengenai beberapa hal tentang isi dari perjanjian pra nikah, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pemisahan harta benda
    Pemisahan harta benda bisa saja terjadi pada saat posisi istri dalam keadaan terpojok karena tiga alasan di bawah ini, yaitu :isi perjanjian pra nikah
  2. Suami dinyatakan berkelakuan tidak baik yaitu dengan memboroskan harta kekayaan bersama untuk keperluan pribadi
  3. Suami dinyatakan mengurus hartanya sendiri, tidak memberikan bagian yang layak kepada istrinya sehingga hak istri menjadi hilang.
  4. Diketahui adanya kelalaian yang sangat besar dalam mengurus harta perkawinan sehingga memiliki kemungkinan hilangnya harta kekayaan bersama
  5. Perjanjian kawin
    Perjanjian ini dibuat oleh calon mempelai untuk mengatur akibat yang mungkin timbul mengenai harta kekayaan bersama. Dalam perjanjian tersebut pihak ketiga diperbolehkan diikutsertakan. Hal yang jelas harus menjadi perhatian ketika membuat perjanjian kawin, di antaranya yaitu :
    – Perjanjian tersebut tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan dan keterlibatan umum.
    – Perjanjian tersebut tidak dibuat menyimpang dari : (1) hak – hak yang timbul dari kekuasaan suami, (2) hak – hak yang timbul dari kekuasaan orang tua.
    – Perjanjian tersebut tidak mengandung pelepasan hak peninggalan orang – orang yang mewariskannya.
    – Perjanjian tersebut tidak boleh menjanjikan bahwa satu pihak harus membayar sebagian hutang yang lebih besar daripada bagiannya.
    – Perjanjian tersebut tidak boleh dibuat janji bahwa perkawinan mereka akan diatur oleh hukum asing.
BACA JUGA :  Bagaimana Hukum Nikah Siri Tanpa Izin Istri Pertama

Demikian artikel kali ini mengenai apa itu perjanjian pra nikah, isi dari perjanjian pra nikah, surat perjanjian nikah dan dalil perkawinan yang sudah kita bahas diatas, semoga informasi dari carapdkt kali ini berguna bagi kita semua. stay tune terus disini ya guys karena ada banyak sekali tips dan trik menarik seputar hubungan terutama cara pdkt yang menarik untuk di simak.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.