Diary Nisa : Oktober Kedua Puluh dan Musim Hujan

15 Oktober 2016,

*

www.carapdkt.net. Diary Nisa : Oktober Kedua Puluh dan Musim Hujan. Hari ini adalah tahun kedua aku merencanakan lari pagi pukul enam. Mengenakan celana training semata kaki dan sepatu ket. Biar sedikit terlihat lebih gagah, aku bisa memakai jaket kebesaran berwarna malam. Jaket kebesaran berwarna malam yang dipakai pukul enam pagi mungkin akan sangat menarik perhatian. Entah karena membuat terlihat lebih tampan atau malah membikin lebih menyerupai tukang bubur ayam.

lari pagi menjadi cita-citaku yang terpendam, ditunda-tunda, dan menyedihkan.

Sesuatu yang baik untuk badan, kadang kala sulit sekali dilakukan dengan sepenuh hati.

Beginilah manusia, menuhankan ego. Bahkan ketika menghadapi kepentingan tubuhnya sendiri.

**

Diary Nisa : Oktober Kedua Puluh dan Musim Hujan

Diary Cewek Manis berjilbab

Hari ini aku merasa taman kecil di halaman depan rumah Asa merupa bocoran surga.

Membersihkan taman kecil rumahnya dari batu-batu jelek, benalu berbulu, rumput liar yang terlampau gondrong, dan gagang permen hot-hot pop, berdua saja, dengan sedikit interupsi tetangga, terasa begitu sempurna. Aku dan Asa, bahu membahu menciptakan taman impian, agar bisa kami pandang-pandang selepas lelah, berdua saja, ditemani jus mangga dan pembicaraan perihal jas hujan.

Beberapa bibit mawar yang kami beli dari ibu-ibu berkolor merah jambu kemarin siang, siap kami tanam sekarang. Setelah rerumput selesai kami sulap menjadi permadani, tanah-tanah disihir gembur, dan batu-bebatu singgah di tempat sampah. Kemarin kami membeli lima bibit mawar. Tetapi karena sudah terlampau sore, aku dan asa hanya sempat menanam dua pohon mawar pertama.

BACA JUGA :  Cerita Cinta : Dipuja tidak terbang, Dicerca tidak tumbang

Menanam pohon mawar berdua, di halaman rumahnya, menjadi momen historikal yang menderu-deru. Pohon-pohon mawar itu anak-anak kami, peranakan cinta kami, saksi pelukan-pelukan yang dihantar udara ketika kami saling mendaoakan dari rumah masing-masing yang berjarak hanya enam kilo.

Mawar pertama kami beri nama “Pelukan”.

Mawar kedua kami beri nama “Luna” yang berarti bulan.

Pelukan dan Luna menyaksikan kami saling melempar senyum saat itu, merona-rona, dengan tangan belepotan tanah dan sandal jepit sederhana.

Aku dan Asa, Oktober musim hujan, menumbuhkan cinta yang tak tertandingkan.

Dua menit sebelum 16 Oktober 2016,

Fakta Unik Cinta

*

Bergegas menuju peraduan, membungkus diri dengan selimut yang baru kuambil dari tempat laundry, dan memandangi Dogi kucingku terkulai di atas karpet kamar yang hangat. Aku merengkuh guling dan bergumam sendiri, “Dua menit lagi usiaku dua puluh,”

16 Oktober 2016,

*

Ketukan di pintu mengacaukan lamunanku perihal obat batuk dan pernikahan.

Siapa pula mengetuk pintu pukul sekian? Dini hari benar. Tepat pukul 00.00. Tanpa suara motor, tanpa hingar bingar kendaraan berhenti.

Kukira tetangga sebelah mau menitip kunci atau Mbah kontrakan sedang kesepian.

 Alangkah berdegupnya dada ketika kubuka pintu. Asa menyeringai lembut dengan sebongkah kue berlapis coklat di tangannya. Kue yang ia bawa lengkap dengan dua lilin berbentuk angka 2 dan 0 menyala-nyala di atasnya. Aku terkekeh membaca tulisan “Happy Birthday Dipa” dan hiasan bentuk wajah berkacamata bulat di muka kue.

BACA JUGA :  Ungkapan Hati Yang Terluka Oleh Kekasih

Aku terpaku. Tak mampu berkalimat. Speechless. 

Aku memeluknya. Dia memelukku. Kami berpelukan.

**

Sore ini, kami menanam kembang mawar ketiga, keempat dan kelima.

Kembang mawar ketiga sepakat kami beri nama “Kenangan”. Kami menanam “Kenangan” Sore itu. Di senja yang sudah memanggil-manggil.

Asa menawarkan nama “Harapan” untuk mawar keempat. Aku setuju setelah ia mengatakan bahwa “Harapan” adalah asosiasi namanya. Ya, lucu juga kupikir.

Mawar terakhir, sebut saja “Tak bernama”. Kami lantang-lantang menggugurkan teori Shakespiere tentang “Apalah arti sebuah nama? Mawar jika diberi nama yang lain akan tetap sama harumnya,”

Sore itu, kami membuktikan, bahwa mawar yang diberi nama dengan nama-nama yang relevan dengan sebuah momen, mereka dapat terasa jauh lebih berarti dari ketimbang semestinya.

***

Senja itu, ia membikinkanku segelas jus mangga terenak yang pernah kuminum. Kado terindah yang kudapatkan dari seorang yang terindah.

“Kita harus menikah,”

“Ya, kita harus segera menikah,”

Pelukannya kubawa tidur dan kukenang-kenang.

Read This :

Ungkapan Hati Yang Terluka Oleh Kekasih

Cara Mengembalikan Cinta Yang Memudar

Diary Nisa : Oktober Kedua Puluh dan Musim Hujan

Leave a Reply